Saat Suami Dekat Kembali Dengan Sang Mantan

Suami Menghargai Istri dan Istri Menghargai Suami

cinta Ada temen share artikel mengenai “Saat SuamiDeakt Kembali Dengan Sang Mantan”, berupa halaman tanya jawab di web Majelis Percikan Iman.

TANYA :

Ustadz, saya kerap cemburu ketika suami saya sering berkomunikasi (baik via telepon, SMS, atau jejaring sosial lainnya) dengan akhwat yang dulu pernah menjadi calon istrinya. Suami kerap menenangkan saya bahwa komunikasi tersebut sekadang menyambung tali silaturahmi. Namun demikian, saya tetap saja tidak tenang. Di sisi lain, saya juga tidak mau menjadi orang yang menghalangi silaturahmi. Menurut Ustadz, apa yang harus saya lakukan?

JAWAB :

Kecemburuan merupakan gejala fitrah, wajar, dan alamiah dari seseorang sebagai rasa cinta, saying, dan saling memiliki, melindungi (proteksi), dan peduli. Karenanya setiap insan dalam keadaan hidup berpasangan (suami-istri), dipastikan akan dihinggapi rasa cemburu. Bahkan, bisa dikatakan tidak normal, sebuah pasangan yang adem ayem dan datar-datar saja ketika keduanya menyatakan tidak pernah dihinggapi rasa cemburu. Kenyatan itu akan berakibat kehilangan rasa cemburu dan tumbuhnya sikap ketidak-pedulian pada pasangan hidup dan keluarga, baik para istri maupun suami dengan membiarkan penampilan, perilaku, dan aktivitas keluarga mereka tanpa kontrol (muraqabah) dengan dalih saling percaya.

Meskipun, realitas di depan mata mengundang fitnah dan membawa indikasi negatif akan membuka peluang bagi penodaan kehormatan dan citra keluarga sangat dibenci dalam Islam. Meski demikian, tidak jarang masalah pelik muncul dalam hidup berpasangan terjadi akibat rasa cemburu yang sudah dikendalikan hawa nafsu, hilangnya daya nalar, dan emosi yang berlebihan.

Mengingat rasa cemburu dapat membawa efek positif dan negatif tetapi penting adanya, maka kemampuan dalam memenej rasa cemburu–dalam arti kepandaian dalam menempatkan rasa cemburu benar-benar pada tempatnya–harus benar-benar dimiliki setiap pasangan agar rasa cemburu justru membawa nilai ganda dalam kehidupan berpasangan yang harmonis. Berikut bebererapa di antara sikap yang perlu diperhatikan dalam menyikapi rasa cemburu.

  1. Bijaksana dalam mengelola kewaspadaan dan kecurigaan terhadap tingkah laku pasangan sehingga tidak salah langkah yang berakibat kehilangan kepercayaan pada suami dengan merugikan dirinya sendiri berdasarkan sesuatu indikasi sumir (singkat) yang belum jelas masalahnya.
  2. Cermatlah dalam memilih sikap mana yang memang layak untuk diwaspadai mengingat ada indikasi yang mengarah kepada kelayakan suami atau istri untuk dicemburui, dicurigai, ataupun diwaspadai, seperti penampilan genit, mata keranjang, maupun “gatelan”.
  3. Senantiasa mengambil langkah-langkah strategis dalam upaya menempatkan rasa cemburu pada tempatnya, seperti klarifikasi (tabayyun), koreksi (tanashuh), maupun introspeksi (muhasabah) secara lapang dada, kepala dingin, dan pikiran jernih.

Rasulullah Saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah itu memiliki sifat cemburu dan orang-orang beriman juga memilikinya. Adapun rasa cemburu Allah ialah ketika melihat seorang hamba yang mengaku dirinya beriman kepada-Nya melakukan sesuatu yang diharamkan-Nya.” (H.R. Bukhari dan Nasa’i).

 

Beliau juga bersabda, “Orang-orang mukmin itu pencemburu dan Allah lebih pencemburu.” (H.R. Muslim). Cemburu dalam arti yang positif di sini harus didasari cinta (mahabbah) karena Allah–bukan karena emosi hawa nafsu dan egoism–agar keluarga terselamatkan dari api neraka.

Wallahu a‘lam

 

 

Sumber : Kalau Suami Dekat dengan Mantan

One Reply to “Saat Suami Dekat Kembali Dengan Sang Mantan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.