Categories
Belajar Islam

Penciptaan Manusia

Penciptaan Manusia

“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah (air mani) kemudian berbentuk segumpal darah dalam waktu yang sama… lalu menjadi segumpal daging dalam waktu yang sama pula. Kemudian diutus seorang malaikat kepadanya lalu ditiupkan ruh padanya dan diperintahkan dengan empat kalimat/perkara: ditentukan rizkinya, ajalnya, amalannya, sengsara atau bahagianya.” (HR. Al-Bukhariy no.3208 dan Muslim no.2643 dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anh

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Menyikapi Ajakan Kemusyrikan Obama di Istiqlal

Menyikapi Ajakan Kemusyrikan Obama di Istiqlal: ‘Lakum Dinukum Waliyadin’

Secarik kertas  berisi tulisan tangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama tentang kesan khusus atas kunjungannya ke Masjid Istiqlal diterima oleh Imam Besar Masjid Istiqlal KH Mohammad Ali Mustofa Yakub, Rabu 10 November 2010.

 

Bagaimanapun, tulisan tangan seorang Presiden Amerika yang dia sendiri mengaku sebagai Kristiani itu walau tampaknya mengajak kepada suatu “kebaikan” namun entah disengaja atau tidak, di dalamnya ada tawaran kemusyrikan. Satu bentuk keyakinan yang sangat dilarang oleh Islam, bahkan puncak kemungkaran.

 

Hal itu tercermin dalam akhir tulisan tangan Presiden Obama:

 

“…. I hope my visits promotes greater understanding between peoples of different countries and different faith for we are all children of God.”

 

Baris terakhir termaktub “we are all children of God,” yang kurang lebih terjemahnya adalah “kita semua adalah anak-anak Allah.” Kalimat ini  adalah ajakan kepada kemusyrikan, karena dalam Islam, Allah Ta’ala berfirman dengan jelas:

 

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (Qs Al-Ikhlash 1-4).

 

Penawaran dengan menyebut “we are all children of God” itu mengingatkan peristiwa yang diajukan oleh kaum kafir Quraisy untuk apa yang kurang lebihnya sekarang disebut “doa bersama antaragama”, namun langsung Allah Ta’ala menurunkan surat Al-Kafirun, yang isinya menolak tegas-tegas penawaran dari kaum kafir Quraisy itu.

 

“Katakanlah: “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu semba. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al-Kafirun 1-6).

 

Tulisan tangan Obama itu diterima Imam Besar Masjid Istiqlal KH Mohammad Ali Mustofa Yakub. Berikut isi lengkap tulisan Obama:

 

“I am honored to have had an opportunity to visit this magnificent mosque, which stands as a symbol of the role of Islam in guiding the lines of millions of Indonesians. I hope my visits promotes greater understanding between peoples of different countries and different faith for we are all CHILDREN OF GOD.”

 

Terjemahannya kurang lebih demikian:

 

“Kehormatan bagi saya karena mendapat kesempatan untuk dapat mengunjungi masjid yang sangat luar biasa ini, Istiqlal adalah simbol peranan Islam dalam menuntun kehidupan jutaan rakyat Indonesia. Saya berharap kunjungan saya makin meningkatkan saling pengertian di antara orang-orang dari berbagai negara dan keyakinan, sebab kita semua adalah ANAK-ANAK TUHAN.”

 

Bagaimana umat Islam menyikapinya?

 

Bagaimana cara menyikapi setelah kita tahu ada ayat “lakum dinukum waliyadin”

ِ(bagimu agamamu, dan bagikulah, agamaku)?

 

Imam Ibnu Katsir mengaitkan ayat itu dengan sikap Nabi Ibrahim alaihissalam dan para pengikutnya terhadap orang-orang musyrikin:

 

“Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.”(Qs Al-Mumtahanah 4).

 

Walaupun tulisan Obama itu berkaitan dengan kunjungan di Masjid Istiqlal, namun isinya pada hakikatnya adalah mengajak kepada kemusyrikan. Karena sebagaimana Allah Ta’ala telah jelaskan:

 

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS Al-Baqarah 120).

 

Bagi Umat Islam, lafal “insya Allah” ataupun “assalamu’alaikum” yang diucapkan Obama ketika berkunjung ke Indonesia, tidak lantas membuat silau akidah. Umat Islam tetap lebih percaya kepada apa yang difirmankan Allah dan Rasul-Nya, diantara: “lakum dinukum waliyadin.”

 

ِBagimu agamamu, dan bagikulah agamaku, wahai Mister Obama.

 

Obama Beri Plakat ke Pihak Istiqlal                                                                                      U.S. President Barack Obama and first lady Michelle Obama tour the Istiqlal Mosque in Jakarta November 10, 2010. Guiding them is Grand Imam Ali Mustafa Yaqub (C). REUTERS/Jason Reed

 

 

 

Oleh: Hartono Ahmad Jaiz

Sumber : voa-islam.com

*) Hartono Ahmad Jaiz adalah penulis buku “Sumber-sumber Penghancur Akhlaq Islam.”

Menyikapi Ajakan Kemusyrikan Obama di Istiqlal

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Ridzki Setelah Nikah

Ridzki Setelah Nikah

Ridzki adalah salah satu faktor yang paling banyak menjadi polemik, sebelum maupun setelah pernikahan. Faktor ridzki ini tak henti-hentinya menjadi pokok bahasan dalam, menjelang dan disaat kita mengarungi pernikahan. Waktu lamaran atau khitbah misalnya, kerap kali seorang pria ditanyai calon mertua dengan pertanyaan : sudah kerja atau belum ? kerja di mana ?, semata-mata karena kerja ada kaitannya dengan ridzki, dalam pengertian : ridzki material untuk menghidupi keluarga (suami, istri dan anak).

 

Mengenai jumlah material yang bakal didapat seseorang ketika dia telah menikahpun masih banyak perbedaan pendapat. Ada yang berkata : ridzki material seseorang yang menikah akan berkurang, mengingat jatah dirinya harus dibagi tiga- untuk diri, pasangan dan untuk anak-anaknya. Ada yang berkata : ridzki material seseorang yang menikah akan bertambah, mengingat ridzki dari diri, pasangan dan anak semuanya berkumpul dalam wadah yang bernama keluarga.

 

Pendapat kedua yang lebih optimistik ini berpangkal dari asumsi, masing-masing orang sudah dikaruniai ridzki dari Allah, sehingga ridzki itu berkumpul dalam suatu wadah, yaitu keluarga. Tambah optimis mereka yang memegang prinsip kedua ini, ketika pasangan suami-istri dikaruniai kelahiran seorang anak. Sudah ada ridzki suami, ridzki istri, ditambah lagi ridzkinya seorang anak. �Banyak anak banyak ridzki,� bisa berlaku pula teratas mereka yang percaya dengan prinsip yang disebut ke-2 ini.

 

Bila diminta memihak, maka penulis tentu akan berpihak pada pendapat ke-2, kendati secara logika pendapat pertama tidak sama sekali salah. Pendapat pertama bisa menjadi suatu kebenaran, dengan syarat : pencari nafkah tidak optimal dalam ikhtiar, sedang penerima nafkah tidak mampu mengalokasikan pendapatan secara hemat dan benar. Atau jangan-jangan, pihak yang bertanggungjawab mencari nafkah belum atau tidak mampu mencari nafkah, bagi pemenuhan kebutuhan dan stabilitas ekonomi keluarganya.

 

Optimisme yang mengemuka dalam pendapat pertama bisa juga menjadi buyar, ketika optimisme tidak didukung oleh maksimalisasi potensi ikhtiar, serta azas penghematan dalam pengelolaan anggaran keluarga. Pameo �banyak anak banyak ridzki� bisa tidak berlaku lagi, berganti dengan pameo : �banyak anak banyak beban.� Hemat penulis, fenomena inilah yang banyak terjadi di negara ini.

 

Dengan faktor penyebab yang ditengarai : pernikahan dini, entah karena �married by accident� atau dalih ingin lekas menunaikan perintah agama, tanpa mengukur kemampuan dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi pasca pernikahan. Itulah sebabnya, untuk mencegah hal tersebut, Ibrahim Amini, seorang cendekiawan Islam meletakkan pekerjaan tetap atau stabil sebagai syarat bagi laki-laki, yang berniat menyunting seorang wanita.

 

KH Miftah Faridl, salah seorang ulama terkemuka Jawa Barat juga mendukung pendapat kedua, yang menganggap bahwa pernikahan adalah pembuka pintu ridzki. Membaca uraian beliau dalam buku 150 Masalah Nikah & Keluarga bisa diinsyafi bahwa, kalau seseorang menikah maka dia akan memperoleh ridzki untuk dirinya dan untuk teman hidupnya. Dengan menikah diharapkan, ridzki bertambah dengan salah satu sebab, penyaluran pembiayaan hidup yang lebih baik, dan pengelolaan pembiayaan hidup diatas azas penghematan.

 

Pendapat beliau menjawab pertanyaan penulis tentang : mengapa seorang kawan yang masih membujang dan bekerja di perusahaan mentereng, sering mengeluh kekurangan uang. Partner yang handal dalam mengelola ridzki tak pelak menjadi pertimbangan penting, yang harus dipikirkan seseorang ketika ia memilih pasangan hidup. Kurang-cukupnya ridzki dalam sebuah keluarga akhirnya tidak ditentukan oleh jumlah material, melainkan ditentukan oleh kehandalan dan kemampuan manajerial pasangan pernikahan dalam mengatur cash flow rumahtangga.

 

*Kolumnis artikel Islam. Tulisannya dimuat di Republika, Islam Online, Mutmainna dan majalah Hareetz (Qatar)

Ridzki Setelah Nikah

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Ramuan ajaib jadi kaya

Ramuan ajaib jadi kaya

Masukkan sejumput do’a disertai rencana kerja yang matang, tuangkan air pengetahuan, seduh di atas api motivasi yang membara, lalu aduk dengan kerja keras.

 

Pisahkan kotoran riya dan sombong dengan saringan ikhlas. Tuangkan ke dalam gelas qanaah yang dijamin tidak tumpah mubazir dan tidak bocor karena boros.

 

Minum pelan-pelan karena tak ada yang namanya kaya dengan instan. Bagikan ramuan ini kepada teman, karena ramuan ini baru bekerja jika diiringi dengan sedekah.

 

 

merisa: Ramuan ajaib jadi kaya

Ramuan ajaib jadi kaya

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Tabir Pernikahan

Tabir Pernikahan

Pernikahan akan menyingkap tabir rahasia bahwa suami/istri yang kita nikahi tidak seindah yang diimpikan.

 

 

Istrimu bukanlah semulia Khadijah, setakwa Aisyah, setabah Fatimah, secantik Zulaikha, justru istrimu adalah istri akhir zaman, yang akan melahirkan anak-anak yang shaleh/shalihah dari rahimnya…

 

 

Pernikahan akan menginsyafkan kita akan perlunya iman & taqwa karena memiliki suami tak searif Abu Bakar, seberani Umar bin Khottab, sekaya Usman bin Affan, segagah Ali bin Abu Thalib. Suamimu adalah suami akhir zaman yang insyaAllah akan membimbingmu menempuh jalan yang diridhoi ALLAH..

 

 

Namun senantiasalah berikhtiar, semoga ALLAH menjadikan kita suami/istri seperti mereka… Amin… InsyaALLAH.

Tabir Pernikahan

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Mengelola Qalbu Dari Qalbu Menuju Profesionalisme

Mengelola Qalbu: “Dari Qalbu Menuju Profesionalisme”

Turning Your Dreams into Reality

Narasumber: Reza M. Syarief, Syarif Muhtarom & B.S. Wibowo

 

Menggapai Cita-Cita

5 hambatan tidak bisa mencapai cita-cita, we call it FAMES, yaitu:

1. Fear of failures, takut menghadapi kegagalan

2. Against to the possibilities, takut mengambil resiko padahal resiko termasuk kemungkinan. Fight to be the best, ready for the worst

3. Mediocre, kelas 2, sedang-sedang saja, tidak ada keinginan mjd luar biasa

4. (leak of) Enthusiasm/Expression, antusiasme terhadap segala sesuatu kurang

5. Self defense to the change, tidak ingin berpindah dari zona nyaman, tidak menerima adanya perubahan.

 

Kelima hal di atas muaranya hanya satu • the big IF (Andai). Andai saya

punya uang, andai saya pintar, andai saya… dst…

 

Bila kita membayangkan diri kita sebuah Rocket yang ingin melesat tinggi

ke atas maka kita memerlukan Engine (mesin). Apa engine kita?

1. The wisdom of Abu Bakar (Kearifan)

2. The fighting of Umar bin Khattab (Semangat juang)

3. The wealth of Usman bin Affan (Kesejahteraan/Kekayaan)

4. The smart of Ali bin Abi Thalib (Kecerdasan)

 

 

Selain engine yang baik kita memerlukan Fuel (bahan bakar). Apa fuel kita?

Fuel kita adalah The Spirit of Rasulullah SAW, yakni warisan leadership

yang bisa kita tiru:

1. Shiddiq ¯ Moral Credibility }

2. Fathonah ¯ Intelectual Credibility }

3. Amanah ¯ Social Credibility } Karakter Dasar

4. Tabligh ¯ Operational Credibility } Seorang Leader

5. Hikmah ¯ Political Credibility }

 

Hadist: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta

pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.”

 

Manusia dan Kecerdasan

Tentu kita ingat target pembangunan yang dicanangkan pemerintah Indonesia, salah satunya adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya.

Tetapi dalam implementasinya yang dibangun hanya aspek INTELEKTUAL (IQ) dan FISIK (FQ) saja.

 

Di dalam konsep Islam kita tidak hanya mengenal itu, kita juga mengenal KECERDASAN SPIRITUAL (SQ) dan KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) untuk memperoleh KEPRIBADIAN YANG PARIPURNA (UTUH) atau dalam Al-Quran dikenal dengan AL-INSANUL KAMIL. Hasil dari keempat kecerdasan itu adalah:

1. SQ ¯ KERJA IKHLAS }

2. EQ ¯ KERJA MAWAS } KERJA PRESTATIF

3. IQ ¯ KERJA CERDAS }

4. FQ ¯ KERJA KERAS }

 

Hadist: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan diri dan

berorientasi untuk masa depan, terutama masa depan setelah kematian.”

 

Oleh karena itu gapailah cita-cita setinggi-tingginya. Ubah Tantangan (5C: Complexity, Condition, Coward, Change, unCertainty) menjadi Peluang (Opportunity).

 

Allahu Akbar!!

(ditulis dan disarikan oleh Satrio Wahyudi)

Ringkasan Kajian Rabu, Training MQ & Acara Life Excellence ANTEVE – PT. PJB

 

http://www.ocidbrass.com/2009/01/mengelola-qalbu-dari-qalbu-menuju.html

Mengelola Qalbu Dari Qalbu Menuju Profesionalisme

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Ulil Fatwa dan Ahmadiyah

Ulil, Fatwa dan Ahmadiyah

Mantan koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla, yang kini ‘nyantri’ di Harvard University, AS menulis “Hukum, Fatwa, dan Ahmadiyah” (Tempo, 12 April 2008) menyangkut kasus Ahmadiyah yang terus menghangat. Lewat tulisannya itu Ulil menyatakan beberapa hal penting yang perlu dicermati.

 

Pertama, tentang “hukum dan fatwa”. Menurut Ulil, fatwa “tidak mengikat”. Di sini dia ingin ‘membatalkan’ fatwa MUI tentang kesesatan sekte Ahmadiyah. Menurutnya: “Karena itu, fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang sesatnya sekte Ahmadiyah adalah urusan rumah tangga umat Islam sendiri. Negara sama sekali tak diikat oleh hukum itu. Jika sekelompok tertentu dalam umat Islam beranggapan bahwa sekte A adalah sesat berdasarkan parameter doktrinal yang mereka anut, hak itu ada sepenuhnya pada mereka. Tugas pemerintah bukan ikut-ikutan menyokong pendapat kelompok itu untuk memberangus keberadaan kelompok lain.”

 

Ulil tampak gusar dan khawatir dengan fatwa MUI ini. Dia juga ketakutan pemerintah akan mendukung sepenuhnya fatwa MUI itu. Apa yang dilakukan MUI adalah benar, dan itu diakui oleh Ulil. Dia menganggap bahwa fatwa MUI adalah “urusan rumah tangga umat Islam”. Artinya, fatwa ini dibenarkan oleh Ulil. Ulil sangat berlebihan jika sampai khawatir pemerintah mendukung fatwa itu. Sejak awal, Ahmadiyah memang bak ‘duri dalam daging’. Gerakannya bak ‘api dalam sekam’. Terakhir adalah kasus berkelitnya Ahmadiyah, dari 12 butir kesepakatan yang ada.

 

Jamak diketahui, bahwa gerbang besar masuk ke dalam Islam adalah dua pengakuan sakral (syahadatain): Allah sebagai satu-satunya sesembahan (al-Ilah) dan Muhamma s.a.w. adalah utusan Allah (Rasulullah). Jika ada yang menyimpang dari syahadat ini, maka dia bukan Islam. Oleh karenanya, Ahmadiyah adalah “di luar Islam”. Jika Ahmadiyah ingin dianggap sebagai “agama” (bukan hanya di Indonesia) cukan dengan membuat nama agama khusus. Ahmadiyah tidak harus ‘mencatut’ nama Islam, karena itu justru menghancurkan Islam dari dalam.

Tampaknya Ulil keliru besar jika mendukung adanya Ahmadiyah di Indonesia.

 

 

Kedua, masalah kesesatan. Ulil memandang bahwa sesat tidaknya satu aliran (sekte) adalah hal yang relatif. Merupakan hal yang mafhum bahwa doktrin liberalisme pemikiran adalah ikon “relativisme”. Tujuan Ulil sudah dapat ditebak. Dia menginginkan agar Ahmadiyah tidak dicap sesat. Karena bisa jadi Ahmadiyah menganggap dirinya “tidak sesat”. Yang menganggap sesat justru sekte-sekte di luar Ahmadiyah. Untuk itu, Ulil perlu menguatkan pendapatnya dengan dua argumentasi: “Pertama, sesat-tidaknya sebuah sekte biasanya bersifat relatif; tentu sekte tertentu sesat dalam pandangan sekte yang lain. Ia belum tentu sesat di mata umat dalam agama bersangkutan. Setiap tindakan menyesatkan biasanya mengandung elemen politis, yakni kehendak sekte tertentu untuk menggusur pengaruh sekte lain yang dianggap sebagai pesaing.

 

Kedua, kalaupun sekte tertentu dianggap sesat dalam sebuah agama, ia bisa saja kehilangan “ruang hidup” sebagai warga agama melalui proses ekskomunikasi, misalnya. Tapi ia tak kehilangan ruang hidup sama sekali sebagai warga negara. Hukum melindungi ruang hidup untuk semua warga Negara tanpa melihat ikatan sektarian. Karena itu, kebebasan beragama dan keyakinan berlaku tanpa pandang bulu. Fatwa penyesatan hanya sebatas menutup ruang hidup warga agama, tapi bukan warga negara.”

 

Ulil menginginkan bahwa walaupun Ahmadiyah dianggap sesat, tidak berarti harus kehilangan jadi diri mereka sebagai WNI (Warga Nasional Indonesia). Yang jelas, tugas MUI sudah benar. Masalah pemerintah mau mendukung atau tidak, itu berpulang kepada kebijakan pemerintah itu sendiri. Saya melihat, ada semacam gerakan untuk mendukung kesesatan di Indonesia. Dan itu nyata di depan mata. Wallahu a‘lamu bi al-shawab. [Q]

 

Medan, 24 April 2008

 

From: Qosim Nursheha Dzulhadi <qosim_deedat></qosim_deedat>

Subject: [INSISTS] Ulil, Fatwa dan Ahmadiyah

 

http://musliminsuffer.wordpress.com/author/musliminsuffer/page/156/

Ulil Fatwa dan Ahmadiyah

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Mengidap Pluralisme Agama Pertanda Rusak Akalnya

Mengidap Pluralisme Agama Pertanda Rusak Akalnya

Untuk membuktikan bahwa faham pluralisme agama itu sangat beda dengan Islam, mari kita ajukan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawabannya. Agar lebih mudah maka diilustrasikan dengan tiga orang:

  1. Penguji.
  2. Muslim anti pluralisme agama.
  3. Tokoh pluralisme agama.

Pertanyaan 1.

Penguji: Apakah orang muslim yang pemahamannya benar sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah itu sesembahannya hanya Allah?

Jawab Muslim: Ya.

Jawab Tokoh Pluralisme: Ya.

Penguji: Apakah orang kafir dan musyrik sesembahannya hanya Allah?

Jawab Muslim: Tidak.

Jawab tokoh liberal: Tidak. (Karena kalau sesembahannya hanya Alah berarti tidak musyrik).

Penguji: kalau demikian, samakah antara orang Muslim dengan orang kafir dan musyrik; dan apa dalilnya dalam hal sesembahan ini.

Jawab Muslim: tidak sama. Dalilnya:

قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ(1)لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ(2)وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(3)وَلاَ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ(4)وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ(6)

1. Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.

4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.

6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al-Kafirun: 1-6).

Jawab tokoh pluralisme agama: Sama saja, muslim dan kafir ataupun musyrik semuanya sama. Soalnya yang mengetahui benar dan tidaknya itu bukan kita tetapi hanya Allah. Kita tidak boleh mengklaim kebenaran itu.

Sahut penguji: Bodoh kamu. Tadi kamu ditanya, apakah orang Muslim yang benar sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesembahannya hanya Allah, kamu jawab: ya. Kemudian ditanya, apakah orang kafir dan musyrik sesembahannya hanya Allah, kamu jawab tidak. Kok sekarang kamu samakan, yang ya dengan yang tidak?! Apakah ya itu sama dengan tidak? Benar-benar telah rusak akalmu.

 

Pertanyaan 2:

Penguji: Samakah orang yang sholat dengan orang yang tidak sholat, dan apa dalilnya.

Muslim: Tidak sama. Yang memelihara sholatnya maka kelak masuk surga, sedang yang tidak sholat masuk neraka. Dalilnya:

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ(9)أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ(10)الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ(11)

dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,(ya`ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Mu’minun: 9, 10, 11).

Sebaliknya, orang yang tidak sholat masuk neraka:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ(42)

Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?

 

قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ(43)

Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (Qs Al-Muddatstsir: 42, 43).

Jawab tokoh pluralisme agama: Sama. Orang yang sholat dan yang tidak sholat sama. Karena yang tahu kebenaran itu hanya Allah. Para ulama juga tidak tahu kebenaran, makanya ketika menafsirkan Al-Qur’an diakhiri dengan kalimat Allahu a’lam.

Penguji: Bodoh kamu. Anak SD (sekolah dasar) saja tahu, dan dapat membedakan antara orang yang sholat dan tidak sholat. Lha kamu sudah jadi professor, sekaligus tokoh pluralisme agama malahan tidak dapat membedakannya. Lebih memalukan lagi, tidak dapat membedakan pula ungkapan pendek dalam bahasa Arab, yang disebut isim tafdhil (tingkatan lebih). Dalam hal mengetahui kebenaran, para ulama itu tahu, ketika ayatnya jelas, ya ulama tahu. Kemudian ungkapan Allahu a’lam itu artinya Allah yang lebih tahu. Jadi bukan berarti ulama tidak tahu, tetapi ulama tahu, namun Allah lebih tahu. Itu maksud lafal Allahu a’lam. Baru tentang lafal Allahu a’lam saja tidak tahu maksudnya, tetapi berani menetapkan hukum yang sangat bertentangan dengan Islam: Muslim disamakan dengan kafir dan musyrik; lalu orang yang menjaga sholatnya disamakan dengan yang tidak sholat. Ini namanya tidak tahu namun sok tahu, bahkan ketidak tahuannya itu untuk menghukumi perkara yang sangat-sangat besar! Benar-benar bodoh!

 

(Kejadian mirip ini benar-benar terjadi antara Ustadz Toharo pemimpin Ma’had As-Sunnah di Cirebon Jawa Barat dengan tokoh pluralisme agama seorang professor dari STAIN (IAIN?) Cirebon menjelang Ramadhan tahun lalu dalam acara bedah buku dikota itu. Akibatnya sebagian dari mahasiswa perguruan tinggi Islam negeri itu ada yang sadar dan mengikuti pengajian yang merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus sholih). (Hartono Ahmad Jaiz)

 

http://www.nahimunkar.com/mengidap-pluralisme-agama/#more-51

Mengidap Pluralisme Agama Pertanda Rusak Akalnya

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Letter for Adnan Buyung Nasution

Letter for Adnan Buyung Nasution

05 Mei 2008

AHMADIYAH

[Republika Online]

 

Hal yang sangat mengenaskan adalah ketika seseorang merasa benar pada saat ia berbuat salah. Saya merasa prihatin dengan Abang yang selama ini menjadi kebanggaan saya karena di belakang nama Abang ada Nasution. Di samping prihatin juga kasihan karena dalam usia yang tidak tahu kapan akan berakhir, demikian ngotot membela yang salah. Kalau Abang membela koruptor, maka Abang berhadapan dengan masyarakat, tetapi ketika Abang membela aliran sesaat maka tidak hanya berhadapan dengan masyarakat tetapi juga dengan Allah SWT.

Abang dengan semangat menolak aliran sesat Ahmadiyah yang dikatakan bertentangan dengan UUD yang menjamin kebebasan beragama. Di sini masalahnya bukan kebebasan beragama, tetapi pengacak-acakan agama. Kalau aliran Qadiani membuat agama baru lalu diakui oleh negara, silakan.

 

Kemudian Abang mengatakan bahwa pelarangan terhadap aliran sesat Ahmadiyah, preseden buruk terhadap demokrasi di Indonesia. Demokrasi hanya menjamin kebebasan seseorang dalam batas-batas tertentu. Karena seseorang tidak bebas mencuri, tidak bebas memperkosa, tidak bebas merusak dan juga tidak bebas mengacak-acak agama orang lain.

 

Saya bertanya kepada Abang, bagaimana pendapat Abang kalau ada orang masuk ke rumah Abang lalu ia mengacak-acak rumah, apakah itu bagian dari demokrasi? Dan orang lain membela bahwa hak dia mengacak-acak rumah Abang.

Untuk Abang ketahui bahwa aliran ini muncul setelah terjadi perang umat Islam melawan penjajah Inggris di India pada tahun 1857 yang dikenal dengan ”The Mutiny of Freedom”. Penjajah Inggris kewalahan menghadapi perlawanan umat Islam. Setelah mengkaji kekuatan umat Islam ini maka penjajah menyimpulkan bahwa kekuatan mereka terdapat dalam tiga hal: Alquran, sosok Nabi Muhammad SAW, dan jihad. Lalu dibuat skenario untuk melemahkan kekuatan umat Islam dengan menampilkan seorang orator, ahli debat seorang ustadz lokal, dialah Mirza Ghulam Ahmad. Karena hidupnya susah maka dengan mudah ia digiring untuk motor perusakan Islam.

 

 

Ada empat tujuan pokok pembentukan aliran ini:

1. Penodaan terhadap Alquran

2. Penistaan terhadap kerasulan Muhammad SAW

3. Pengaburan pemahaman jihad

4. Merusak ukhuwah Islamiyah

 

Dalam Tablighi Risalah Vol VII, Faruq Press Qadian, Agustus 1922, Mirza Ghulam Ahmad menyampaikan, ”Seluruh hidup saya dari sejak kecil sampai hari ini ketika berusia 60 tahun, saya telah menyerahkan diri saya dalam tugas-tugas untuk menyebarkan dalam pikiran umat Islam bibit-bibit kepatuhan, prasangka baik, dan simpati terhadap penjajah Inggris dan berusaha menyapu habis pemikiran jahat seperti jihad dan lain-lain dalam pikiran bodoh di antara mereka.”

 

Dalam buku Qadiani terbitan Departemen Penerangan Pakistan ditulis:

”Dalam kondisi yang sangat penting ini, gerakan sesat Qadiani dimunculkan di sudut terpencil kota Punjab di bawah perlindungan penuh penjajah, tuan besarnya. Penyelidikan terakhir membuktikan bahwa gerakan sesat ini berada di bawah pengawasan penjajah yang skenarionya telah dipersiapkan dan para dalang dari rencana busuk ini cukup tepat setelah menemukan Mirza Ghulam AHmad Qadiani, seorang yang jiwanya tidak stabil yang dinobatkan sebagai ‘nabi palsu’ yang diberi tugas untuk merusak integritas keagamaan dan ukhuwah Islamiyah.”

Penodaan terhadap ajaran Islam mencakup berbagai aspek dari ajaran pokok Islam:

 

1. Alquran.

Dalam buku Haqiqatul Wahy, hlm 391, Mirza Ghulam Ahmad berkata: Firman Tuhan yang diturunkan kepadaku demikian banyak sehingga bila dikumpulkan maka tak kurang dari 20 juz.

2. Kenabian.

Dalam Maktobat -i-Ahmadiyah vol V hlm 112, Mirza Ghulam Ahmad berkata: ”Dialah tuhan yang mahabenar yang telah mempercayakan nabinya di Qadian.”

3. Tanah Suci.

Dalam Haqiqatur Roya hlm 46: Qadian adalah ibu dari seluruh kota. Siapa saja yang menjauhkan dirinya dari kota ini akan terpotong dan tercabik-cabik. Buah-buahan Makkah dan Madinah sudah dipetik dan habis dimakan, sedang buah-buahan Qadiani tetap ada dan segar.

4. Ibadah Haji.

Dalam Paigham-i-Sulh, terbit 19 April 1933: Tidak dikatakan Islam sebelum percaya kepada Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, seperti juga tidak dikatakan haji sebelum menghadiri pertemuan tahunan Qadiani karena untuk sekarang ini tujuan haji bukan lagi di Makkah.

 

Masih banyak hal-hal pokok dalam ajaran Islam yang dikacau-balaukan. Karena itu Rabithah Alam Islami menyatakan aliran ini adalah kafir dan keluar dari Islam. Pemikir Musim Pakistan, Dr Muhammad Iqbal, menyebut mereka ”Traitors of Islam/Pengkhianat terhadap Islam.”

Pada 1953, pecah gerakan anti-Ahmadiyah besar-besaran di Punjab sehingga pemerintah memberlakukan hukum darurat. Dan pada 1974 Majdlis Nasional Pakistan melahirkan Undang-Undang dan Pasal 260 ayat 3 menyatakan aliran Qadiani adalah di luar Islam. Majelis Nasional juga mengesahkan Undang-Undang Hukum Pidana terhadap aliran sesat Qadiani. Pada ayat 298 C disebutkan: Barangsiapa dari golongan Qadiani atau Lahore (yang menyebut mereka Ahmadiyah atau nama lain) yang secara langsung atau tidak langsung mengaku sebagai Muslim atau menyebut atau menyatakan kepercayaannya sebagai Islam atau menyebarkan atau mempropagandakan kepercayaannya atau meminta orang lain untuk menerima kepercayaannya baik melalui kata-kata atau pembicaraan atau tulisan atau melalui gambaran yang dapat dilihat atau melalui apa pun yang menyakitkan perasaan keagamaan umat Islam dihukum penjara atau dengan hukuman lain yang dapat diperpanjang sampai tiga tahun dan dikenakan denda.

Dalam keterangan ini, apakah Abang masih membela kesesatan? Sekali lagi bahwa ini bukan hak kebebasan beragam, tetapi perusakan terhadap ajaran Islam, di mana setiap Muslim termasuk Abang wajib menjaganya. Pelarangan narkoba bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat dari kerusakan. Sedang pelarangan aliran sesat Ahmadiyah untuk menyelamatkan masyarakat dari kesesatan.

 

Semoga Abang diberi hidayah oleh Allah SWT. Amin.

 

 

H Pangadilan Daulay MA MSc

Dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta

Mantan Wartawan Editor di Asia Selatan

Alumnus Quaidi Azam University Islamabad

Ketua Jamiah Al-Washliyah DKI Jakarta

 

Berita ini dikirim melalui Republika Online http://www.republika.co.id

 

Berita bisa dilihat di :

http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=332599&kat_id=20

<http:></http:>

Letter for Adnan Buyung Nasution

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Agar Suami Disayang Istri

Agar Suami Disayang Istri

January 9, 2007 by trimudilah

 

Judul asli : 

Min Akhtha’i al Azwaj

Penulis : Muhammad bin Ibrahim Al Hamd

Edisi Indonesia : Agar Suami Disayang Istri

Penerjemah : Ahmad Syaikhu

Penerbit : Pustaka At Tazkia – Jakarta

Cetakan : I, Mei 2005

Halaman : xii + 229

 

Buku ini menyebutkan kekeliruan-kekeliruan yang biasa dilakukan oleh seorang suami. Dengan maksud sebagai bahan introspeksi agar rumah tangga menjadi lebih harmonis. Meski perlu diingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi alangkah baiknya bila suami tetap terus memperbaiki diri. Demikian juga dengan seorang istri. Harus terus memperbaiki diri.

Inilah kekeliruan kekeliruan yang disebutkan dalam buku tersebut. Saya sebutkan dengan meringkas penjelasannya.

 

 

1. Mengabaikan orang tua setelah menikah

 

2. Membiarkan hubungan antara istri dan mertua menjadi renggang

 

3. curiga terhadap istri

 

 

4. Miskin cemburu terhadap istri

Cemburu yang sehat sangat dianjurkan. Cemburu yang didasarkan pada akal sehat, cinta kasih dan saling percaya.

Cemburu adalah perasaan mulia dari cinta sejati yang mendorong seorang hamba melindungi istrinya. Juga sebaliknya, mendorong istri untuk menjaga suaminya.

Cemburu adalah salah satu sifat pria yang mulia. Perasaan itu tidak boleh pudar dalam diri seorang pria, apa pun situasinya. Bahkan ketika ia tidak lagi mencintai istrinya. Kecemburuannya tetap kokoh, selama perempuan tersebut berstatus istrinya, dan karenanya jadi tanggung jawabnya. Perasaan cemburu membuat kedua belah pihak merasa dicintai. Masing masing lalu berusaha memperbarui, menumbuhkan, dan memelihara perasaan cinta.

 

5. Meremehkan istri

 

 

6. Menyerahkan komando rumah tangga pada istri

Suami adalah pemimpin. Mencintai bukan berarti mengikuti semua kemauan istri. Mencintai berarti bersama sama mengayuh sampan rumah tangga, dengan penuh cinta dan saling mengerti.

 

7. Merampas harta istri

 

 

8. Malas mengajari istri tentang Islam

Ini salah satu kekeliruan yang dilakukan oleh banyak suami. Suami malas mengajar, mendidik dan memahamkan istrinya dalam urusan agamanya. Jika istri bodoh dalam urusan agamanya, ia tidak mengetahui hak suaminya, tidak mampu mendidik anak anaknya dan merawat rumahnya dengan baik. Ia pun tidak beribadah pada Rabb nya dengan cara yang Dia ridhai.

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan, “Kewajiban atas suami, sebagai pemimpin rumah tangga adalah mendidik istri istrinya semaksimal mungkin agar mereka melaksanakan kewajibannya.”

Syaikh Ridha melanjutkan, “Bagaimana mungkin wanita dapat menunaikan kewajiban dan hak jika mereka tidak mengetahuinya, baik secara umum maupun rinci? … “

Suami hendaknya berupaya mengokohkan dalam hati istrinya rasa cinta pada Allah, takut dan harapan kepada Nya, merasakan pengawasan Nya, bertawakal dan senantiasa bertaubat pada Nya. Ia ajarkan hukum hukum bersuci dengan berbagai ragamnya, jinabat, hadats, haid, nifas dan lainnya.

Selanjutnya yang juga patut diperhatikan, seorang istri sangat terpengaruh dengan perilaku suaminya. Jika ia melihat suaminya sangat menyukai auratnya tertutup, iffah (menjaga kesucian diri), berakhlak dan rajin beribadah, sang istri pun bersegera melakukannya. Ia terdorong oleh semangat memenuhi perintah Rabb nya dan mencari ridha suaminya. Sebaliknya jika ia melihat suaminya meninggalkan hukum hukum agama dan adab berkeluarga, ia pun mengikuti suaminya demi menyenangkan hatinya.

 

 

9. Pelit terhadap istri

Salah satu hak istri atas suaminya adalah diberi nafkah secara ma’ruf. Maksud nafkah disini adalah harta yang diwajibkan atas suami untuk diberikan pada istrinya, seperti tempat tinggal, makanan, pengasuhan, pakaian, dan lain lainnya. Dengan begitu, kehormatan istri selamat dari pelecehan, kesehatan pun terjaga. Semua itu hendaknya dilakukan dalam batas batas kesanggupan.

Ibnu Qudamah berkata, “Memberikan nafkah pada istri adalah kewajiban, berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan ijma’. Allah berfirman:

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya.” (Ath Thalaq: 7).

As Sarakhsi berkata, “Suami wajib memberikan nafkah menurut kadar kecukupan dan dinilai ma’ruf, yakni tidak kikir dan tidak berlebih lebihan.”

Memberikan nafkah kepada istri lebih didahulukan daripada memberi nafkah pada orang lain. Ini dilalaikan oleh banyak orang. Abu Hurairah menuturkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam:

 

“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk membebaskan budak, satu dinar yang engkau nafkahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu nafkahkan pada keluargamu; maka yang paling besar pahalanya adalah apa yang engkau nafkahkan pada keluargamu.”

(HR. Muslim no. 995).

Istri tidak boleh menuntut nafkah melebihi kebutuhannya, atau membebani suaminya di luar kesanggupannya. Itu berarti menyusahkan dan membebani. Ketika istri diuji oleh suami yang kikir terhadapnya, lalu ia bersabar dan mengharapkan pahala, maka ia akan mendapat pahala dari Allah.

 

 

10. Mengejutkan istri setelah lama bepergian

Berikan kesempatan kepada istri untuk bersolek setelah Anda bepergian lama. Niscaya hasrat dan kasih sayang lebih bertahan lama.

Dalilnya adalah hadits riwayat Jabir. “Kami bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam suatu peperangan. Ketika kami telah tiba di Madinah, kami pergi untuk menemui istri kami. Rasulullah bersabda,

“Perlahan, jangan masuk pada malam hari -yakni Isya’- hingga ia menyisir rambut yang kusut, dan agar wanita yang ditinggal bepergian itu bisa berdandan.” (HR. Muslim, No. 715; Abu Daud No. 2776; dan At Tirmidzi no. 1172).

Hikmah dilarangnya perbuatan ini, adalah agar hasrat terhadap istri tetap kuat. Sebab, suami tidak melihat suatu aib pada istrinya atau sesuatu yang mengurangi keindahannya. Misalnya, rambut acak acakan, tidak berhias, dan lainnya. Dengan memberi tahu terlebih dulu, suami dapat melihat istrinya tetap cantik karena telah berhias. Hatinya pun tetap gembira. Hasratnya pun tetap terjaga.

Ringkasnya, suami tidak semestinya datang menjumpai istrinya secara tiba tiba setelah bepergian jauh. Hal ini dalam rangka mengikuti sunnah, … Saat ini, berbagai sarana tersedia. Seorang suami bisa berkomunikasi lewat telepon dan memberitahu istrinya bahwa ia akan datang pada hari dan waktu tertentu. Setelah mengetahui waktu kedatangan suaminya, istri pun berkewajiban untuk berdandan dan bersiap siap dengan sempurna untuk menyambutnya.

 

 

11. Hobi mencela dan mengkritik istri

 

12. Kurang berterima kasih kepada istri

Apa ruginya jika Anda memuji istri Anda karena kecantikannya dan kerajinannya? Apa ruginya jika Anda berterima kasih padanya atas suguhan yang ia siapkan untuk tamu Anda? Apa pula ruginya jika Anda menyatakan terima kasih Anda karena telah mengurus rumah dan anak anakmu, walaupun itu merupakan tugasnya, walaupun ia melakukannya sebagai kewajibannya? Semua itu dapat memperkuat kasih sayang antara suami istri.

 

 

13. Sering bertengkar

 

14. Lama meninggalkan istri tanpa alasan

 

15. Terlalu sibuk hingga jarang menemani keluarga

 

16. Bersikap kasar terhadap istri

 

17. Malas berhias untuk istri

 

18. Mengabaikan sunnah sebelum bercinta

 

19. Mengabaikan kesantunan dan etika bercinta

 

20. Mengumbar rahasia ranjang

 

 

21. Buta terhadap kondisi kejiwaan istri

Suami dituntut peka terhadap kondisi psikis sang istri. Dengan memahami kondisi istri, membantu suami bersikap secara tepat.

Ada juga suami yang tidak tahu problem problem alamiah wanita, baik ketika mengandung, haidh, nifas, dan lainnya. Ketika mengalaminya, kadang ia merasakan kesulitan dan kegelisahan. Apalagi ketika mengandung dan mengidam. Pada saat itu, istri menginginkan banyak hal.

Kadang pula ia tidak menyukai sesuatu, sehingga tidak tahan melihatnya atau menciumnya. Terkadang ia tidak menyukai rumahnya, suaminya, atau hal hal lain. Jika suami tidak mengerti hal itu, ia bisa saja beranggapan bahwa istrinya telah membencinya dan bosan dengannya. Kadang pula, suami lantas bersikap keras, dengan menceraikan istrinya. Ia tidak tahu sikap istrinya itu di luar keinginannya.

Karena itu, suami sepatutnya memahami masalah masalah ini agar tidak jatuh dalam kekeliruan kemudian menyesal. Saat itu, penyesalan tak lagi berguna. Jika ia tidak paham hal hal seperti ini, semestinya ia bertanya. Sebab, obat kebodohan adalah bertanya.

 

 

22. Menggauli istri ketika haid

 

23. Menggauli istri lewat dubur

 

24. Memukul istri tanpa alasan

 

25. Poligami dengan niat buruk

 

26. Tidak adil pada para istri

 

27. Terburu buru memutuskan cerai

 

28. Enggan menceraikan setelah mustahil berdamai

 

29. Mencela mantan istri

 

30. Mengabaikan anak usai bercerai

 

31. Habis manis sepah dibuang

 

32. Memandang hijau kebun tetangga.

 

 

—————

Buku ini bagus dibaca agar kita bisa mengetahui bagaimana menjadi suami yang baik. Tetapi upaya memperbaiki rumah tangga bukan hanya dari sisi suami saja. Harus dibarengi juga dengan upaya memperbaiki diri istri. Dengan begitu, niatan untuk membentuk keluarga yang sakinah mawaddah wa rahma atas dasar aturan aturan Islam bisa dilakukan dari dua arah. Yaitu suami dan istri sekaligus.

Ketika membaca buku ini, saya terdiam dan berpikir. Untuk kesekian kalinya -alhamdulillah- saya semakin yakin pentingnya ilmu agama dalam beramal. Bahkan untuk berumahtangga pun kita harus punya ilmunya agar tidak banyak kekeliruan kekeliruan yang kita buat. Contoh yang menarik adalah kekeliruan sebagian suami sebagaimana dijelaskan pada point 10, yaitu mengejutkan istri setelah lama bepergian. Sebagian dari para suami mungkin mengira akan membuat ‘surprise’ (kejutan) dengan tiba tiba hadir dihadapan istrinya. Maksudnya mungkin baik -menurut perkiraan mereka- yaitu agar semakin bertambah rasa cinta diantara keduanya. Tetapi ini malah suatu kekeliruan. Tidak semestinya seorang suami menjumpai istrinya secara tiba tiba setelah bepergian jauh. Hendaknya memberi kabar dulu tentang kedatangannya, bisa dengan menelpon atau sms. Dengan itu, seorang istri punya waktu yang cukup untuk bersiap siap menyambut suaminya dengan baik. Inilah yang bisa menambah rasa cinta diantara suami istri.

 

Semoga Anda semakin yakin bahwa menuntut ilmu agama itu penting dan memang perlu…

 

 

Ringkasan buku ini dibuat oleh Chandraleka

di Depok, 29 Desember 2006

 

Chandraleka

Independent IT Writer

Agar Suami Disayang Istri

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Adakah Tuhan

Adakah Tuhan??

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut merapikan brewoknya.

Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

 

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan,dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.

 

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.

“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.

 

“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, apa yang terjadi di jalanan itu menunjukkan bahwa Tuhan itu tidak ada?

Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, mengapa ada orang sakit??, mengapa ada anak terlantar?? Jika Tuhan ada, pastiah tidak akan ada orang sakit ataupun kesusahan.

 

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”

 

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

 

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

 

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker- istilah jawa-nya”, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.

 

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,” Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”

 

Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang begitu ??”.

“Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen.

“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”,

 

Si konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur.

” Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri.

 

“Cocok!” kata si konsumen menyetujui.” Itulah point utama-nya!.

Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini.”

Adakah Tuhan

 

 

http://www.stisitelkom.ac.id

http://hilfan.blog.stisitelkom.ac.id

Categories
Belajar Islam

Keindahan Akhlaq dan Sifat Rosulullah

Keindahan Akhlaq dan Sifat Rosulullah

Allah Swt Berfirman :

 

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu

(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat

dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S Al Ahzab : 21)

 

Adapun diantara keindahan Akhlaq dan Sifat Rosulullah adalah :

 

1) Rasul berdoa dengan penuh khusyuk (menangis berlinang air mata)

2) Wajahnya senantiasa ceria yang menyejukkan mata memandangnya

3) Sangat elok dan sempurna wajahnya

4) Rasul memilik perasaan yang halus

5) Suka makan beramai-ramai daripada sendiri

6)  Tidak menyukai kemegahan dan perhiasan yang cantik melambangkan kesombongan dan

kemegahan

7) Beliau makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang

8) Tidak pernah mengumpat , mencaci atau menghina orang lain

9) Rasul memelihara rambutnya dengan baik

10) Rasul memakai serban di atas kepalanya

11) Suka memberi kembali hadiah

12) Rasul mengucapkan salam kepada tuan rumah ketika hendak keluar atau masuk

13) rasul sangat lemah-lembut dengan isterinya dan setiap keluarganya

14) Senatiasa memberikan salam kepada siapa yang ditemuinya

15) rasul bersalaman dengan sahabatnya dan memeluk mereka ketika berjumpa

16) Ketika berjabat tangan ia tidak melepaskan tangannya sehingga orang

dijabatnya itu melepaskan tangannya

17) Apabila berjumpa dan berpisah dgn kumpulan kanak-kanak , baginda

mengangkat tangannya tanda hormat kepada mereka

18) Tidak menatap atau merenung wajah orang lain lama-lama

19) Tidak bangun dari sesuatu majelis makan sehingga tamu lain bangun

20) Tidak pernah menjulurkan kakinya di depan para sahabat

21) Rasul suka bercakap secara perlahan dan menyebut perkataan dengan jelas

22) Senantiasa menumpukan perhatian kepada orang yang berbicara dengannya

23) Tidak pernah ketawa terbahak-bahak tetapi hanya tersenyum lembut

24) Sangat fasih dan manis dalam tutur bicara

25) Tersangat sabar dan tabah bila menghadapi setiap cobaan dan kesusahan

26) Mengasihi terhadap umatnya

27) Tidak pernah mengambil rezeki karunia Allah melebihi keperluan makan

minumnya

28) Rezeki yang melebihi keperluan akan ditaburkan untuk jihad Fisabilillah

29) Sentiasa membantu orang lain walaupun ia sendiri dalam kesusahan

30) Tidak pernah menghina orang miskin dan tidak merasa terhina bergaul dengan

mereka

31) Suka menziarahi orang sakit

32) Amat pemurah hingga digambarkan seperti angin lalu pemurahnya

33) Rasul tidak suka tidur di bilik gelap dan di bawah bumbung yang terbuka dan

tidak beratap

34) Tangannya tidak pernah menyentuh kulit wanita lain

35) Bersikap tegas , pemaaf dan pengasih dalam perjuangan

36) Beliau mengambil wudhu’ sebelum tidur dan berzikir hingga khusuk

37) Sangat menghormati orang-orang tua dan mengasihi orang-orang muda dan

kanak-kanak

 

Semoga bemanfaat untuk kita jadikan suri tauladan.

 

 

Hasil berkaca diri sendiri:

 

1. Belum bisa seperti itu

2. Muka gw kebanyakan BTnya

3. Yang ini mmmmm…. paling cuma bini gw aja yang bilang sempurna

4. Wah kalau saya meledak ledak

5. Yang ini OK

6. Yang ini OK

7. Yang ini OK

8. Saya masih suka mengumpat orang lain, apalagi kalau lagi nyetir…

9. Yang ini OK

10. Saya tidak memakai sorban, panas bo´

11. Kalau lagi ada kelebihan duit suka juga membelikan hadiah walaupun tidak ada even spesial

12. Yang ini OK

13. Nah saya masih suka gogorowokan sama istri dan keluarga

14. Yang ini paling sama yang dikenal, itupun cuma basa basi… ¨kamana euy..¨

15. Yang ini paling sama sahabat yang sudah lama tidak jumpa

16. Nah kalau saya suka melepaskan terlebih dahulu, asa aneh salaman lama tuh

17. Kalau saya cuma bercanda dan main tatarucingan

18. Saya suka menatap orang dan meledek kekurangannya

19. Yang ini OK

20. Yang ini OK

21. Saya suka kecepetan kalau ngomong

22. Yang ini OK

23. Wah kalau saya bisa ngakak sampai sakit perut dan nangis

24. Suka pagujud ngga jelas

25. Suka marah-marah dan menggerutu

26. Kalau sama tukang parkir dan pengamen suka jutek

27. Selalu mengambil lebih buat bayar hutang, beli mobil dan rumah

28. Yang ini OK

29. Yang ini OK

30. Yang ini OK

31. Yang ini OK, tapi suka kelupaan juga karena kesibukan

32. Masih suka itungan untung ruginya

33. Yang ini OK

34. Masih doyan colek colek dan salaman ama bukan muhrim

35. Baru bisa 1/3 nya

36. Kadang-kadang saja

38. Suka marahin orang tua yang nyetirnya sembarangan dan suka menerobos antrian, suka bermuka masam sama anak muda yang ugal-ugalan, dan suka ngadegungkeun sirah budak leutik

 

buset dah gw baru bisa menjalankan 13 point dari 38, belum sampai 50% acan….

Keindahan Akhlaq dan Sifat Rosulullah

Categories
Belajar Islam Blogs Curhat

Arus Kiri-Kanan Ekonomi Syariah

Arus Kiri-Kanan Ekonomi Syariah

Sejak dikonsepkan oleh Nabi saw 1400 tahun yang lalu, ekonomi Islam terus mengalami perkembangan yang dinamis baik sebagai mazhab ekonomi (Baqir Shadr) maupun ilmu ekonomi (Monzer Kahf), mengiringi realitas sosial dan politik yang mempengaruhinya. Pasca runtuhnya kekhalifahan Islam 1924, komunitas dan entitas ekonomi Islam turut mengalami degradasi juga revivalisasi. Jika sebelumnya istilah ekonomi Islam tak pernah dikenal karena sudah inheren dalam setiap aktivitas ekonomi masyarakat muslim, maka ketika Barat mengambil estafet kepemimpinan politik dan ekonomi, istilahisasi menjadi sesuatu yang tak dapat dihindarkan sebagai salah satu simbolisasi sebuah perlawanan yang tak pernah berhenti.

Di era ekonomi kontemporer, dimana sektor perbankan menjadi sesuatu yang tak terhindarkan (taken for granted), ekonomi Islam pun harus bermain pada arena yang sama, yang pada dasarnya tidak menjadi masalah ketika aturan main (rule of the game) masih bersandarkan kepada keadilan tanpa kedzaliman (2:276), keridhaan tanpa pemaksaan (4:29), amanat tanpa khianat (4:58).

Oleh karena itu, pemaparan empat aksi dan reaksi–penulis menyebutnya arus– terhadap euphoria Islamisasi ekonomi baik dalam ranah teori maupun aplikatif menggunakan pendekatan penilaian terhadap perbankan syariah yang menjadi trigger dalam kebangkitan ekonomi langit yang sedang dibumikan.

 

Arus Kiri-Destruksif

Perang wacana atas eksistensi ekonomi Islam menurut arus ini bergerak pada “ada dan tidaknya”, dengan melakukan studi kritis pada interpretasi kemapanan ekonomi Islam itu sebagai konsep yang sempurna dan aplikatif. Pengusung arus ini mengatakan bahwa Islam hanya membawa “semangat moral” dalam kehidupan ekonomi. Dalam perbankan, golongan ini menolak pengharaman riba sebagai pertimbangan hukum, tetapi hanya sebagai pertimbangan moral dan kemanusiaan saja (Abdulah Saeed, 1996) juga menolak penafsiran bahwa bunga adalah riba. Membuat asumsi bahwa profit and loss sharing–sebagai karakteristik utama bank syariah–merupakan gagasan yang utopis atau mustahil diterapkan secara sempurna. Kemudian, mengkritik kedudukan Dewan Syariah sebagai ladang justifikasi kebenaran transaksi atau akad-akad yang sebenarnya masih diperselisihkan oleh para fuqaha. Sehingga keberadaan bank Islam patut dipertanyakan keotentikannya. Mereka beranggapan bahwa mekanisme perbankan yang ada sudah sangat ideal untuk masyarakat modern. Kelompok ini diwakili oleh kaum modernis Islam yang menolak formalisasi syariah dalam segala bidang. Mereka umumnya mengenyam pendidikan di Barat dan melakukan penafsiran-penafsiran berdasarkan paradigma Barat (west-worldview). Tak pelak lagi, yang mereka lakukan merupakan tindakan kontra-produktif bagi bangunan ekonomi Islam itu sendiri. Alih-alih ingin menyelaraskan ajaran Islam dengan dinamika perubahan, yang  paling mungkin terjadi adalah hilangnya ruh Islam sebagai basis pergerakannya. Melihat ada pengaruh orientalis dalam arus ini telah cukup memproyeksikan motif dan agenda yang melatarbelakanginya.

 

Arus Kiri-Kritis

Berbeda dengan yang pertama. Arus ini justeru amat ketat dalam menjaga “karakteristik asli” agama Islam. Mereka menolak seluruh sistem perbankan yang tidak mungkin terbebaskan dari jerat riba. Bank syariah telah memasuki lingkaran kapitalisme internasional yang sangat bernafsu menarik dana-dana segar dari kantong umat Islam.  Perbankan Islam dinilai sebagai sesuatu yang gamang. Pencetakan dan pemakaian uang kertas dalam bentuk monopoli yang berlaku disemua negara, sturuktur yang membentuk kepemilikan sebuah bank, dan fluktuasi harga yang berdampak pada kontrak, menjadi faktor penyebab riba  (Umar Vadillo, 1991). Intinya, jika tidak ada pemerintahan Islam yang otentik dan lingkungan moneter  murni syariah yang melatarbelakanginya, maka sulit membangun sistem non ribawi. Tidak jalan lain dalam membentuk sebuah “pasar berkeadilan” kecuali dengan mengasingkan diri dari sistem moneter dan keuangan modern.

 

Arus Kanan-Konstruktif

Merupakan arus utama (mainstream) yang menganut pandangan bahwa ekonomi Islam merupakan sunatullah bagi masyarakat Islam. Ekonomi Islam adalah derivatif syariat Islam sehingga keberadaannya secara konsepsional dan praktikal harus ada sebagai perwujudan doktrin keadilan bagi seluruh mahluk (rahmatan lil alamin). Dilatar belakangi oleh gerakan pembaharu (semisal Ikhwanul Muslimin dan Jama’at al-Islami) yang muncul di paruh pertama abad dua puluh  dengan agenda menanamkan kembali al-Quran dan as-Sunnah sebagai landasan ideologi pergerakan dan  juga sebagai reaksi kosongnya kepemimpinan Islam secara global. Selain itu, Dewesternization of knowledge seperti yang digagas oleh al-Attas mutlak dicanangkan pada seluruh bidang, termasuk ekonomi.

Perbankan syariah berbasis aqidah dimunculkan sebagai rival perbankan ribawi berbasis materialisme. Jika dianalogikan dengan teori benturan Islam-Barat, maka strategi pengembangan ekonomi Islam melalui perbankan oleh arus ini lebih mengutamakan “dialog” dibandingkan ”konfrontasi”. Melalui pembuktian-pembuktian empiris, konsep tanpa bunga menjadi begitu rasional, bahkan dalam pandangan sebagian ekonom Barat. Terutama saat melihat “keberhasilan semu” interest-economic system yang kerap melahirkan krisis. Maka wajar, selain marak di Timur Tengah, perbankan syariah pun “tidak terlalu sepi” di dunia Barat.  Dalam perkembangan selanjutnya, kaidah al-ashlu fi muamalah al-ibahah dan aspek rasionalitas mempengaruhi kelonggaran kebijakan yang dikeluarkan. Arus ini dianggap mampu memberikan nilai dan konsep Islam pada perbankan dan ekonomi secara umum. Sehingga keberkahannya dapat dirasakan masyarakat luas.

 

Arus Kanan-Kritis

Secara umum, arus ini memiliki kesamaan pandangan dengan arus utama bahwa Islam adalah petunjuk yang sempurna dan pasti melingkupi aspek ekonomi. Dalam perbankan, mereka  tidak menolak bank syariah sebagai institusi Islam. Tetapi arus ini memiliki kekhawatiran terhadap pergesaran makna ekonomi Islam sebagai perbankan syariah. Kritik membangun terus digulirkan dalam proses transisi dari sistem  kapitalis. Para praktisi dituntut meletakan mindset bahwa proses ini merupakan bentuk Islamisasi perbankan, bukan duplikasi perbankan konvensional sehingga Islamic Banking is not variant of capitalism, but its alternatif  (Ugi Suharto, 2005). Dalam menjawab tantangan tersebut, mereka berpendapat bahwa Ekonomi Islam harus berdasar pada Epistemologi Islam, sehingga nilai dan pandangan hidup terintegrasi dengan sifat praktisnya. Sebagai contoh, seorang muslim yang sadar tingkah laku ekonominya dicatat oleh malaikat tentu memiliki economic behaivour yang berbeda dengan orang yang tidak percaya bahwa malaikat mencatatnya (ibid). Konsep ini mengindikasikan bahwa manusia ekonomi (Economic Man) yang memimipin dunia ekonomi global harus memiliki aqidah Islamiyah. Dalam dunia perbankan misalnya, keberhasilan perbankan syariah kerap diukur melalui komparasi total asset nya dengan konvensional, padahal penilaian efektivitas dalam mengentaskan kemiskinan melalui pemberdayaan sektor riil dan penghidupkan nilai-nilai spiritualitas seharusnya menjadi perhatian utama. Arus kritis ini concern memberikan pertimbangan-pertimbangan yang selayakmya diakomodasi dalam penentuan kebijakan-kebijakan kedepan agar ekonomi Islam terjebak dalam “lubang kapitalisme” yang bertebaran diberbagai tempat.

Saat ini, perbankan syariah dituntut memperjelas posisi dirinya dalam struktur ekonomi Islam, menunjukan kualitasnya sebagai pembangkit ekonomi umat, dan memperlihatkan peran sertanya dalam krisis dunia Islam global. Sebagai ilustrasi, krisis  kemanusiaan dan ekonomi di Palestina tidak perlu terjadi jika ada –satu saja- bank Islam yang berskala Internasional dan independen mampu menjadi solusi atas embargo keuangan dan  yang terjadi atau menarik satu dollar  dari setiap saldo nasabahnya untuk disalurkan ke negeri para nabi tersebut.

Kemudian dalam pengembangan ekonomi Islam secara umum, sudah saatnya menjawab kritik-kritik yang muncul akibat identifikasinya dengan perbankan syariah. Menggarap ladang-ladang ekonomi yang lain menjadi sebuah keniscayaan agar “ekonomi Islam” tumbuh menjadi ekonomi Islam. Wallahu a’lam bishawab.

 

(Artikel dalam buku Ekonomi Islam Substantif, penulis Muhamad Jarkasih)

http://aamslametrusydiana.blogspot.com/2010/09/arus-kiri-kanan-ekonomi-syariah.html#more

Arus Kiri-Kanan Ekonomi Syariah

Categories
Belajar Islam Blogs

Keistimewaan WANITA didalam Islam

Keistimewaan WANITA didalam Islam

“Wanita perlu taat kepada suami, Tapi tahukah, bahwa lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada Bapaknya….

Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada Lelaki. Tapi tahukah bahwa harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada Suaminya, sementara apabila Lelaki menerima warisan, Ia WAJIB juga menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya.

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, Tapi tahukah bahwa setiap saat dia dido’akan oleh segala umat, malaikat dan seluruh mahluk ALLAH di muka bumi ini. Dan tahukah, jika Ia mati karena melahirkan adalah SYAHID danSURGA akan menantinya……

Di Akherat kelak, seorang Lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 Wanita, yaitu:

1. Isterinya

2. Ibunya

3. Anak Perempuannya dan

4. Saudara Perempuannya.

Artinya : Bagi seorang Wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 Lelaki, yaitu :

1. Suaminya

2. Ayahnya

3. Anak Lelakinya dan

4. Saudara Lelakinya.

Seorang Wanita boleh memasuki pintu SURGA melalui pintu SURGA yang mana saja yang disukainya, cukup dengan 3 syarat saja, yaitu :

1. Sholat 5 waktu

2. Puasa di bulan Ramadhan,

3. Taat kepada Suaminya, dan seorang Lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi Wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggungjawabnya kepada Allah SWT, maka ia akan turut menerima pahalaorang pergi berjihad fisabilillah Tanpa perlu Mengangkat Senjata.

Dikirim khusus untuk Wanita Cantik …..

* Bersabar saat tertekan

* Tersenyum disaat hati menangis

* Diam saat terhina

* Mempesona karena memaafkan

* Mengasihi tanpa pamrih

* Bertambah kuat di dalam doa dan pengharapan……

 

copyright from Yuni Damayanti

Keistimewaan WANITA didalam Islam

Categories
Belajar Islam Blogs

Simbol Dua Jari untuk Swear Sumpah

Simbol Dua Jari untuk “Swear” Sumpah

Mungkin sebagian besar dari kita [umat muslim] kalau berjanji pada seseorang seringkali berkata: “swear” sambil mengacungkan dua jari, jari telunjuk dan jari tengah.

 

 

 

Tapi tahukan Anda makna di balik simbol itu?

Simbol tangan itu dilakukan oleh orang orang Barat [nonmuslim] sebagai janji dengan mengatasnamakan “Tuhan Bapa dan Tuhan Anak” atau “in the name of the father and the son.” Jadi … Kalau Anda seorang muslim seharusnya kalau berjanji tidak perlu melakukan gerakan tangan seperti itu.

Ini sekedar informasi, sama sekali tidak ada maksud SARA.

Simbol Dua Jari untuk Swear Sumpah

Masih banyak arti lainnya, yang kadang kala di pas-paskan sesuai situasi dan kondisi.
bisa dibaca disini https://en.wikipedia.org/wiki/V_sign