Jualan ala anak kecil

Anak-anak sekarang, kalau diperhatikan kebanyakan sebelum masuk SD, sebelumnya sudah mengikuti TK dan PAUD. Karena mungkin kesibukan ibunya diluar rumah, sehingga anak-anak sudah dimasukan dalam kelompok kegiatan tersebut, bahasa kasarnya sih sebetulnya nitip, nitip ngurusin sambil membunuh waktu, dan nitip untuk minta diajarkan dan dididik. Jualan ala anak kecil

Kadang saya pun berargumen dengan istri bahwa anak tidak perlu banyak sekolah terlalu dini cukuplah nanti mulai jenjang SD dan seterusnya. Namun dengan dalil bahwa nanti harus ini itu, akhirnya saya pun menyerahkan pada istri dalam hal pemilihan pendidikan, dengan syarat jangan sampai membebani anak-anak.

Bagi saya pribadi saya lebih senang mengajarkan tentang berdagang, misalkan kalau anak saya lagi main lego-legoan, lalu dia memamerkan hasilnya, kemudian saya bilang, ini dijual berapa? bagus sekali hasil legonya. Awal-awal anak saya juga bingung kenapa ditanya gitu, tetapi setelah itu mulai bisa memberi harga, misalnya dijual seyibu yah (seribu). Lalu saya pura-pura membelinya, OK ini ayah kasih dua ribu, minta kembalian seribu yah, dengan pura-pura memberikan uang padahal tangan kosong.

Hal-hal semacam itu sering saya lakukan, karena bagi saya mumpung masih anak kecil tidak perlulah diajarkan pelajaran eksak lebih dini, contoh-contoh itungan ringan yang dilakukan dalam transaksi dagang saja dulu. Saya juga lebih suka anak saya nantinya jadi wirausahawan dari pada jadi pegawai… hehehe…

Tau gak, ilmu dagang itu diwariskan secara turun-temurun….
Pun bisa dicari dengan silaturahmi pada yang sudah lebih dulu berpengalaman….
Buku-buku teori juga bertebaran, info juga dapat dengan mudah didapat dari internet….

BUT,
Kenapa sebagian kecil saja yang bisa sukses, sementara yang lainnya cuma bisa bilang: MANTAAAAB! (sambil dalam hati mengumpat,”sok-sok an lu!)

Soal sukses itu adalah masalah ketekunan dan ada harga yang harus dibayar. Tanyalah pada mereka yang sudah berhasil, mereka akan bercerita ttg kerja keras, ketekunan, dan kegagalan-kegagalan di masa lalu, bahkan hingga hari ini. Ditambah sedikit keberuntungan…..

Anda?
Siap membayar harga kesuksesan yang anda impikan?

karena sesungguhnya:
SUKSES ITU TIDAK BISA DIBAYAR SEKALIGUS LUNAS. ANDA HARUS MEMBAYARNYA SECARA ANGSURAN DAN MENCICIL SETIAP HARI DENGAN KERJA KERAS

Kok bisa?

Inget-inget, dulu anda sukses lulus SD setelah mencicil hari demi hari enam tahun lamanya. Lalu berhasil menyelesaikan pendidikan SMP setelah 3 tahun, anda bergulat dengan pendidikan hingga lulus.

Sukses pun begitu, sebuah proses, sebuah perjalanan yang membutuhkan waktu. Mengenai panjang-pendek waktu yang dibutuhkan untuk mencapatkan sukses. Tergantung pada besar dan kecil sukses yang diinginkan maupun sebesar apa anda mencicilnya (seberapa kerja kerasnya anda).

Sukses yang besar harus dibayar dengan tempo angsuran yang lebih lama dan membayar cicilan dengan kerja lebih keras. Karena itu, tidak heran jika banyak orang yang akhirnya benar-benar menyelesaikan cicilan dan mendapatkan kesuksessanya.

Dibutuhkan orang yang tegar hati, ulet, tabah, konsisten untuk dapat mengagsur dalam tempo panjang, membayar sukses besar yang diinginkannya.

Sumber : Kampung Wirausaha

Kalau cuma begitu, ANAK KECILPUN BISA!

 

Nah sebelum anda mendapatkan keturunan yang banyak gagalnya dalam berwirausaha, lebih baik ajarin dagang dari kecil, masalah untung rugi mumpung masih kecil bisa diabaikan, namun lebih fokus dari kegigihan si anak untuk mampu dan mau memperdagangkan barangnya.

Dengan semakin bertambahnya umur nanti si anak juga sudah mulai perhitungan, seperti anak saya ini, walaupun baru umur 4 tahun, dia sudah bisa membedakan harga jual antara lego yang kecil dan lego yang besar.

Jualan ala anak kecil Jualan ala anak kecil

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.